MEMAKNAI “RUH” PENDIDIKAN DASAR PECINTA ALAM

 

IMG_0750
       Siswa saat mengaplikasikan materi panjat, di tebing citatah 48

Jakarta, 26 Januari 2017 – Saat ini dunia alam bebas di Indonesia kembali dirundung duka. Setelah beberapa kasus pendaki tewas

maupun pendaki yang hilang saat berkegiatan di alam bebas banyak bermunculan, kini dunia kepencintaalaman pun tak terelakkan. Tiga (3) orang saudara kita, anggota Mapala Unisi (UII) telah berpulang ke Yang Maha Kuasa setelah mengikuti pendidikan dasar pecinta alam.

Diksar pecinta alam merupakan sebuah kata yang tak lagi

asing dikenal. Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru demi regenerasi organisasi pecinta alam. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, bahkan sarat akan kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Mari kita telaah sejenak, mengapa demikian? Apa yang mendasari itu semua? Ada apa dibalik proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?

 

Pandangan terhadap diksar, Kajian teori pembelajaran

IMG_1096
Saat longmarch(jalan jauh) dari tebing citatah 48 sampai Pangheotan.

Pada dasarnya Diksar yang dimaksud adalah untuk menanamkan nilai-nilai kepecintaalaman kepada calon-calon anggotanya, agar kelak ketika dia menyandang nama seorang pecinta alam tidaklah “kosong” secara jiwa sebagai fitrahnya seorang pecinta alam. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa diksar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di alam, namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya.

Diksar merupakan pintu gerbang kurikulum pendidikan pecinta alam. Sebuah ritual sakral yang tiap-tiap organisasi di seluruh Indonesia melaksanakannya. Dalam kegiatannya, diksar dilesenggarakan bukan tanpa dasar, proses-proses pembelajaran didalamnya telah direncanakan secara matang. Kita tahu bahwa kegiatan di alam bebas memiliki resiko yang tinggi menyangkut keselamatan jiwa, oleh sebab itu “kematangan” penyelenggara diksar benar-benar diuji disini.

Sebagai organisasi pecinta alam di lingkungan kampus pendidikan, KMPA Eka Citra UNJ juga melaksanakan diksar sebagai formula terbaik dalam regenerisasi anggotanya. Teori-teori pembelajaran yang didapat dibangku kuliah pun tak serta merta “lewat” begitu saja. Dalam diksar, membentuk calon-calon anggota menjadi seperti yang dipaparkan diatas perlu menempuh sistem/metode khusus. Secara umum, seluruh Kelompok Pecinta Alam (KPA) di Indonesia menerapkan sistem reward – punishment. Apakah kedua istilah itu?

Istilah tersebut sangat populer di dunia pendidikan, reward – punishment merupakan salah satu ciri-ciri dari teori belajar Behavioristik dimana tingkah laku peserta didik dalam hal ini calon anggota KPA merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa segenap tingkah laku adalah merupakan hasil dari belajar. Teori belajar behavioristik dikemukakan oleh para psikolog behavioristik salah satunya adalah Ivan Pavlov yang berpendapat bahwa, tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (punishment) atau penguatan (reward) dari lingkungan sekitarnya. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya, harapannya terjadi perubahan perilaku “menjadi lebih baik” setelah belajar.

P1060122
                                                              Siswa Diklatsar.

Sebagai contoh, dalam dunia pecinta alam saat calon anggota KPA tidak mematuhi tata tertib kesiswaan selama diksar, ia akan otomatis diberi punishment (hukuman) dengan tingkatan yang berbeda sesuai kesepakatan yang tertuang dalam tata tertib diklatsar. Misal, tidak memakai slayer saat materi kelas diberi punishment 1 seri (10x push up), ini dimaksudkan agar calon anggota tersebut merasakan efek “jera” dengan kemudian bisa merubah perilakunya menjadi lebih baik dan mematuhi aturan yang berlaku. Mengapa hal ini diterapkan?

Mengingat medan yang ditempuh merupakan alam bebas dengan resiko yang tinggi, diharapkan siswa bisa mengkondisikan dirinya dengan cepat, aman, dan bertanggungjawab. Namun, tetap pemberian punishment harus sesuai dengan koridornya. Punishment yang diberikan haruslah “mendidik” calon anggota.

KMPA Eka Citra turut berduka cita atas kepergian Saudara kita – Ilham Nurfadmi Listia Adi, Muhammad Fadhli, dan Syaits Asyam – dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

SALAM LESTARI!

Oleh :

Tita Nurmala (EC. 3415 – 0352)

Tinggalkan Balasan