KSI 4.0 MEMBANGUN PERADABAN MANUSIA MELALUI PEDULI LINGKUNGAN

Selama tiga hari bergiat ditutup Pidato oleh Letjen Doni Manardo sebagai Steering Committee KSI 4.0

Kongres Sungai Indonesia ke IV (KSI 4.0) usai dilaksanakan pada tanggal 21-24 Maret 2019

di Bumi Perkemahan, Cibubur, Jakarta Timur.

Dokumentasi oleh Ihab Yazid

 

[Jakarta] Rabu, 26 Maret 2019 – Kongres Sungai Indonesia ke IV (KSI 4.0) usai dilaksanakan pada tanggal 21-24 Maret 2019 di Bumi Perkemahan, Cibubur, Jakarta Timur.

Dengan tema “Sungai Sebagai Pusat Peradaban Bagi Peningkatan Kualitas Hidup Manusia”.

KSI 4.0 suatu ruang diskusi bagi praktisi sungai, para akademisi dari seluruh Indonesia, komunitas-komunitas sungai dan tamu undangan internasional.

Setiap Individu maupun kelompok yang telah bergerak secara massif dalam perbaikan lingkungan dapat memberikan informasi dan gambaran terhadap perbaikan lingkungan kepada peserta KSI 4.0, ini merupakan cara konsolidasi antar penggiat sungai untuk menjawab persoalan-persoalan sungai di Indonesia.

Sebanyak ± 622 peserta yang hadir dan serius berdiskusi membahas 7 (tujuh) agenda besar dibuat dengan dua sesi seminar parallel selama 2 hari bertujuan para peserta dapat bertukar pikiran dan menggali gagasan, berorientasi pada kunjungan lapangan. Hasil Sidang Komisi KSI 4.0 berharap peserta dapat merekomendasikan upaya langkah strategis tepat guna untuk kemajuan perbaikan terhadap sungai-sungai yang sesuai dengan isi tema-tema kegiatan.

Pembacaan sidang komisi dibaca oleh Ketua Pelaksana Febri Sastiviani Putri Cantika, dan penyepakataan maklumat kongres dibacakan oleh perwakilan salah satu peserta. Dihasilkan selama tiga hari bergiat.

Hasil dari maklumat yang dibacakan sebagai rekomendasi untuk membangun kesadaran manusia dan meningkatkan kolabarasi antara praktisi sungai, akedemisi universitas, komunitas-komunitasi sungai, dan seluruh kalangan pemerintah baik Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota maupun Pemerintah desa dalam mewujudkan perbaikan sungai-sungai di Indonesia.

Dalam isi pidato yang disampaikan oleh Letjen Doni Manardo melemparkan tebak-tebakan kepada peserta, “ada yang bisa menjawab dengan satu kata, akan saya beri hadiah 500rb. Apa penyebab faktor utama masalah pada lingkungan?” Salah satu peserta ibu-ibu, berhasil menjawab, celetuk “Manusia”.

“Perlu adanya semangat yang membangun kesadaran pada manusia, karena mata air dan sungai sebagai sumber utama ketersediaan air dari hulu ke hilir. Apa guna memiliki konsep yang baik jika manusia tidak memiliki sikap pada lingkungannya” ucap Letjen Doni Monardo Minggu (24/3/2019).

Pada closing ceremony, mewujudkan prinsip Air Hidupku Sungai Nadiku Maritim Budayaku. Kegiatan di tutup dengan seni musik Betawi, sebelumnya di awali tarian teater kontemporer.

 

Ihab Yazid

EC. 3617 – 0372

Tinggalkan Balasan