EKA CITRA MERINTIS JALUR PENDAKIAN BARU GUNUNG LEUSER “Pesona Kekayaan Alam Dunia Yang Tersembunyi”


“Puncak Loser 3404 mdpl”

Jakarta, 31 Agustus, 2017– Pendakian Gunung Leuser, TNGL, Desa Kedah, Kab. Gayo Lues, Aceh ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ekspedisi Citra Bestari (ECB). Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 11 Agustus hingga 27 Agustus 2017. Kegiatan ini merupakan program kaderisasi yang Anggota Muda untuk menjadi Anggota Penuh KMPA Eka Citra yang berada dalam naungan Universitas Negeri Jakarta. Sekaligus kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-72 Republik Indonesia.

Kegiatannya antara lain adalah Pendakian Gunung Leuser dengan merintis jalur pendakian baru, Penelitian Flora dan Fauna yang berada di sepanjang jalur pendakian, serta pengibaran bendera merah putih di Puncak Gunung Loser dan Leuser, yaitu gunung yang  memiliki jalur pendakian terpanjang di Asia Tenggara.

Jalur pendakian yang di lewati adalah jalur yang belum pernah dilalui oleh tim lain atau bukan merupakan jalur konvensional, jalan yang di lewatipun belum berbentuk jalur, masih berupa belantara yang mana mereka harus siap untuk merunduk bahkan merangkak untuk melewati dahan pohon yang rendah dan bekas tumbangnya batang-batang pohon besar. Disini, tim ECB membuka jalur dengan teknik potong kompas dengan telah merencanakan dan memplotting jalur sebelum mendaki sebelumnya, setelah berhasil terbentuknya jalur ini, tim berharap jalur yang telah dirintis dapat bermanfaat dengan mempersingkat waktu pendakian di Gunung Leuser yang sangat panjang dan juga dapat menjadi jalur konvensional. Perbedaan jalur ini dengan jalur pendakian yang sudah ada adalah lebih singkatnya jarak, serta tidak terlalu banyak melewati bukit-bukit, tim juga membuat beberapa tempat camp di jalur ini, antara lain yang diberi nama Camp Bestari, camp yang berada di sisi sungai alas ini menjadikanya camp yang paling ideal dengan dekatnya sumber air, Camp Eka yang berada di tengah padang, Camp Koba, camp ini memiliki keunikan dinamanya karena tim pun tidak mengetahui apa itu arti Koba karena bahasa Gayo lah yang digunakan untuk memaknai nama camp ini, serta satu camp yang sangat unik karena berada di padang kering yang luas tetapi disana terdapat sumur yang seakan tak akan kering walau di musim kemarau, sampai-sampai tim memberi nama Air Surga, karena disaat menemukan sumber air ini tim baru saja melewati puluhan kilo padang yang sangat panas akan teriknya matahari. Jalur pendakian merupakan jalur perlintasan satwa liar, tak heran jika di sepanjang perlintasan tim menemukan jejak, kotoran, bahkan suara hewan-hewan yang berkeliaran melintasi jalur tersebut. Ada banyak Flora dan Fauna yang terdapat di kawasan TNGL ini, oleh karena itu tim juga melakukan penelitian kepada Flora dan Fauna dengan mendokumentasikan serta mencari tahu lebih dalam tentang Flora dan Fauna yang berada di sepanjang jalur pendakian dengan harap segala kekayaan alam TNGL yang memiliki julukan “ The Hidden Paradise “ ini agar tetap lestari.

Sekilas cerita, Jum’at, 25 Agustus 2017 tim Ekspedisi Citra Bestari yang beranggotakan Brian Chafariz Nursidiq (19) sebagai Ketua, Fahmi Rifa Maulana (20), Maulida Ramandika Putra (19), Arinta Eka Desti Mustika (19), Rachmadina Tri Kencana (19), dan Nugroho Adi Saputra (22) sebagai Pendamping, saat berada di jalur pendakian mereka beserta dua masyarakat lokal yang ikut mendaki bersama menemukan banyak sekali jerat yang di pasang secara tersembunyi. Awalnya mereka mengira itu hanyalah “sling” biasa yang digunakan sebagai pembatas kawasan TNGL, akhirnya dua masyarakat lokal yang ikut mendaki bersama tim pun langsung menangani jerat yang di pasang oleh pihak yang tidak bertanggung jawab ini dengan melepas jerat dari tempatnya dan melaporkan ke Basecamp Rainforest Lodge Kedah, lalu Rajali Jemali yang lebih dikenal dengan Mr. Jali beliau bukan hanya sekedar pemandu tetapi guru para pendaki Gunung Leuser langsung mengadukan hal ini kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) untuk menanyakan apakah lokasi pemasangan jerat ini berada di dalam kawasan TNGL atau tidak, yaitu dengan memberikan koordinat tempat ditemukannya jerat yang telah tedata di dalam GPS tim ECB. “ Ini harus segera ditindak, bukan hanya Rusa, Beruang, atau Gajah, tapi Harimau.” Ujar Mr.Jali. Tim Polisi Hutan bersama para Pemandu pun segera beraksi menuju ke atas untuk pengecekan jalur pendakian.


“Puncak Leuser 3145 mdpl”

Dalam perintisan jalur pendakian serta penelitian Flora dan Fauna di sepanjang jalur pendakian Gunung Leuser tim telah menghasilkan jalur baru “ Jalur yang kita lalui untuk sampai ke puncak berjarak total 38 KM “ Ujarnya Fahmi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial.  Plottingan jalur bertotal jarak 38 KM yang mana asal jalur pendakian Gunung Leuser mencapai kisaran 70 KM ini telah tim serahkan kepada Mr. Jali da mereka harap semoga dapat bermanfaat di dalam pendakian Gunung Leuser. Untuk penelitian Flora dan Fauna akan di perdalam dengan bermodal Dokumentasi yang telah di ambil di sepanjang jalur pendakian, Rama Mahasiswa Fakultas Teknik selaku dokumenter mengatakan “Banyak Flora unik disini yang mungkin akan jarang ditemui di tempat lain“.

“Kedepan, data yang kami dapat akan dipublikasikan dalam seminar umum untuk kepentingan ilmu pengetahuan tentang mountaineering serta usaha dalam pelestarian Flora dan Fauna dan hutan yang menjadi paru-paru dunia” Ujar Brian selaku Ketua Ekspedisi Citra Bestari KMPA Eka Citra. Sekitar 130 Spesies diidentifikasi berada di taman ini saja. Harimau Sumatera yang misterius, Gajah, Badak, Siamang, Kera, Macan Tutul, Reptil, Ikan dan sekitar 325 jenis burung adalah salah satu satwa endemik yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser, ini semua harus tetap di lestarikan. Mr. Jali pun tak kenal bosan mengkampanyekan perlunya menjaga hutan agar tidak di rusak. “Hutan sangat penting bagi masa depan bumi, Jika merusak hutan, sama saja membunuh masa depan, mari kita jaga hutan Leuser ini. Lestari!”

[“ Leave nothing but footprints,  Take nothing but pictures, Kill nothing but time.”]

 

Tinggalkan Balasan