Temu Wicara Kenal Medan ( TWKM) XXVIII Tahun 2016 Mapala UMI Universitas Muslim Indonesia

Cinta alam dan lingkungan hidup merupakan sebuah hal luar biasa yang patut kita lestarikan demi tetap terjaga dan lestarinya alam Indonesia ini beserta kearifan lokal yang ada didalamnya. Mahasiswa pecinta alam sebagai salah satu poros dalam hal usaha nyata pelestarian lingkungan memiliki andil yang besar dalam hal ini, selain sebagai pecinta alam lingkungan juga sebagai kaum intelektual tinggi yang merupakan agen perubahan sangatlah strategis dalam mengambil kebijakan ataupun langkah ini. Berisikan jiwa-jiwa muda yang penuh semangat menjadikan pencinta alam tidak akan padam walau ditelan zaman.

Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) KMPA Eka Citra Universitas Negeri Jakarta salah satu organisasi pecinta alam satu-satunya di Universitas Negeri Jakarta juga turut andil dalam usaha nyata ini, selain misi kampus Universitas Negeri Jakarta sebagai kampus hijau atau dalam programnya “UNJ GO GREEN”  menjadikan KMPA Eka Citra sebagai poros utama dalam usaha pelestarian lingkungan di Jakarta khususnya.

Temu wicara Kenal Medan (TWKM) sebagai salah satu forum nasional terbesar pecinta alam tingkat perguruan tinggi Se-Indonesia menjadi ajang tahunan yang salah satunya membicarakan dan mengangkat isu-isu lingkungan yang ada di daerah dan kemudian direkomendasikan ke lingkup nasional. Dalam pelaksanaanya pada tahun 2016 ini,  merupakan TWKM yang ke-28 yang dihadiri 237 perguruan tinggi dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah peserta sebanyak 682 dari berbagai kalangan dan suku bangsa. Paada tahun ini kota Makassar, Sulawesi Selatan sebagai tuan rumahnya dan tepatnya berada Mapala UMI Universitas Muslim Indonesia.

Peserta TWKM XXVIII Sebelum Keberangkatan
Peserta TWKM XXVIII Sebelum Keberangkatan

Pelaksanaan TWKM yang ke-28 ini menjadi salah satu upaya pengenalan destinasi dan potensi wisata di daerah terkiat selain membicarakan isu lingkungan. Dalam pelaksanaan TWKM ini terbagi menjadi beberapa sub kegiatan meliputi :

Temu Wicara (TW)

Merupakan ajang pertemuan yang dihadiri oleh petinggi-petinggi organisasi pecinta alam tingkat perguruan tinggi yang biasanya dihadiri ketua organisasi, Badan Penguru Harian dan atau perwakilan organisasi yang didelegasikan khusus. Dalam pelaksanaan TW ini dilakukan dalam bentuk persidangan dan akan dirumuskan kemudian ditetapkan perangkat-perangkat untuk tindak lanjut pelaksanaan hasil keputusan rapat terkait isu yang diangkat dan akan di tindak lanjuti. TW yang berlangsung dari tanggal 18 – 22 Oktober ini berlangsung di kabupaten Bantaeng yang merupakan kota kecil yang damai dan bersih si ujung pantai sebelah timur kota makassar. Pelaksanaan TW berlangsung

dengan lancar dan menghasilkan beberapa keputusan sebagai berikut :

  • Memutuskan isu nasional yang diangkat adalah seputar permasalahan kawasan karst dan sekitarnya yang saat ini keberadaannya terganggu oleh tambang batu gamping yang kurang ramah lingkungan dan dari segi penjelajahan adalah mengganggu keberadaan tempat aktifitas pacinta alam dalam melaksanaan penjelajahan alam diwilayah karst meliputi panjat tebing dan susur goa.
  • Memutuskan mengangkat isu reklamasi yang sekarang menjamur diberbagai wilayah indonesia meliputi : teluk Jakarta, teluk Benoa dan pantai Losari yang dalam pelaksanaannya mengganggu ekosistem laut dan saat ini sedang diperjuangkan untuk dihentikan oleh beberapa organisasi kelingkunganhidupan.

Kenal Medan (KM)

Merupakan kegiatan didalam TWKM ke-28 ini yang fokus pada bidang penejelajahan medan meliputi sungai, gunung, goa, tebing dan laut. Dalam pelaksanannya di provinsi Sulawesi Selatan ini menawarkan tempat-tempat yang eksotis diantaranya adalah :

Kenal medan divisi hutan gunung bertempat di kabupaten Enrekang dengan medan gunungnya yaitu Latimojong. Kenal medan divisi panjat tebing dengan tebingnya yaitu tebing Layar di kabupaten Maros. Kenal medan divisi susur goa dengan goanya yaitu Salukang Kalang Keke terletak di kabupaen Maros. Kenal medan arung jeram dengan sungainya yaitu sungai Rongkong di kabupaten Luwu Utara. Kemudian kenal medan selam dengan terumbukarangnya di pulaunya Kadingareng. Kesemua medan memiliki nilai eksotis tersendiri dan membutuhkan teknik khusus didalamnya, peserta yang memang sudah ahli dibidang masing-masing tidak memiliki kesulitan yang berarti.

Acara TWKM ke-28 ini ditutup dengan acara penutupan pada tanggal 23 Oktober 2016 di auditorium Al-Jibra Kampus UMI Makassar pada saat itu bertepatan dengan ulang tahun Mapala UMI yang ke-35 sehingga menjadi kado termanis dalam sejarah ulang tahun Mapala UMI. Perjuangan untuk melestarikan dan mengenal lebih dekat alam indonesia ini tidak akan dilakukan oleh siapapun melainkan bangsa Indonesia itu sendiri. Kaum pecinta alam sebagai poros utama yang berisikan generasi muda “siap tempur” menjadi harapan besar bangsa ini guna tetap lestarinya alam dan tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Suasana Sidang TW-TWKM XXVIII
Suasana Sidang TW-TWKM XXVIII
Puncak Gunung Latimojong-TWKM XXVIII
Puncak Gunung Latimojong-TWKM XXVIII
Sungai Rongkong-TWKM XXVIII
Sungai Rongkong-TWKM XXVIII
Goa Salukang Kalang Keke-TWKM XXVIII
Goa Salukang Kalang Keke-TWKM XXVIII
Tebing Layar-TWKM XXVIII
Tebing Layar-TWKM XXVIII
DIving Pulau Kadingareng-TWKM XXVIII
DIving Pulau Kadingareng-TWKM XXVIII
Penanaman Pohon di Lokasi Kegiatan TWKM XXVIII
Penanaman Pohon di Lokasi Kegiatan TWKM XXVIII

Tinggalkan Balasan